Selasa, 02 September 2014

Kepompong dan kupu-kupu

Pada suatu hari, lahirlah seekor ulat kecil nan lucu. Ulat ini sangat ceria, rajin, dan selalu berbagi makanan dengan orang-orang disekitarnya. Ketika ulat kecil ini sedang mencari daun segar dipagi hari, ia melihat seekor ulat yang akan berubah menjadi kepompong. Ulat kecil inipun bertanya pada ayahnya "Ayah, apa yang terjadi dengan ulat malang itu?". Sang ayah menjawab, "ulat malang itu akan berubah menjadi kepompong. Jika waktunya sudah tepat, kemudian ulat malang itu akan menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Yang dapat terbang dilangit biru dengan mengepakkan sayapnya yang indah. Ia akan mencari bunga untuk makanannya, banyak manusia yang akan terpesona dengan kecantikan sayapnya". Ulat kecil itupun berkata pada ayahnya, "Kalau begitu akupun ingin seperti ulat malang itu ayah. Kapan aku bisa seperti dia". "Secepatnya engkau akan menjadi seekor kupu-kupu cantik pula nak". Ulat kecil dan ayahnya kembali mencari makanan untuk santap siangnya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Akhirnya ulat kecil ini berubah menjadi kepompong. Ia sangat tidak sabar untuk segera menjadi kupu-kupu, dan terbang melihat dunia. Setiap hari ia menantikan kapan prosesnya ia menjadi kupu-kupu ? Sedangkan teman-temannya yang menjadi kepompong bersamanya sudah lebih dulu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Ulat kecil yang sekarang menjadi kepompongpun menanti. Ia terus menanti dengan sabar, menanti bahwa akhirnya ia akan menjadi kupu-kupu. Dalam penantiannya itu, ia mendengar kabar bahwa temannya yang menjadi kepompong sudah meninggal. Temannya meninggal sebelum berhasil menjadi kupu-kupu. Kepompong kecil inipun bersedih, keyakinannya mulai goyah. Ia berpikir, "apakah tidak semua kepompong akan menjadi kupu-kupu ? Apakah mungkin aku juga akan mengalami nasib yang sama dengan temanku ? terus menjai kepompong, terpenjara dari dunia luar hingga akhirnya aku mati tak berdaya".

Namun ia segera menepis pikiran negatifnya itu. Ia yakin bahwa suatu hari, ia mampu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik. Ia dapat melihat dunia, dapat terbang bebas dilangit biru. Meskipun proses yang ia lalui lebih lambat dari teman-temannya yang lain, ia tetap percaya mungkin Tuhan memerlukan waktu yang lebih banyak untuknya mempersipkan diri melihat dunia luar. Bulan berganti bulan, ia tetap sabar menjalani semuanya. Hingga akhirnya, tibalah waktu untuknya menjadi seekor kupu-kupu. Perlahan-lahan ia keluar dari sarung kepompongnya. Perlahan-lahan ia membuka mata dan mencoba mengepakkan sayapnya. Ia sangat bahagia, ini kali pertamanya untuk terbang.

Kupu-kupu lainnya melihat ia dengan takjub, betapa sayapnya lebih indah dibanding mereka. Sayapnya yang cantik membuat iri semua kupu-kupu yang memandang. Tidak pernah mereka melihat kupu-kupu seindah itu. Bunga-bungapun menanti untuk dihinggapi olehnya. Kini kupu-kupu cantik itupun mencoba untuk menjelajahi dunia. Melihat indah dan kerasnya dunia. Setiap ia hinggap di suatu daerah, ada banyak sekali kupu-kupu yang iri dan tidak suka padanya karena ia lebih cantik dari kupu-kupu di daerah manapun. Kupu-kupu cantik inipun tak pernah membalas mereka yang berusaha menjatuhkannya. Ia justru tersenyum dan berterima kasih kepada mereka yang tidak suka kepadanya. Kupu-kupu ini yakin, bahwa mereka yang iri padanya justru tidak lebih baik dari dirinya. Mereka hanya iri atas apa yang dimiliki olehnya. 

Kupu-kupu ini lantas kembali terbang, tinggi ... tinggi ... jauh lebih tinggi dari sebelumnya. "Ahh ... apalah mereka yang tidak menyukaiku karena kelebihan yang aku miliki, aku lebih memilih untuk menikmati kehidupanku. Telah lama proses yang ku lalui untuk menjadi seekor kupu-kupu. Hingga akhirnya Tuhan menjawab semua doa dan kesabaranku. Ia memberiku sesuatu yang lebih istimewa, aku sangat mensyukuri apa yang kumiliki sekarang, tanpa aku memperdulikan omongan orang diluar sana. Karena aku adalah kupu-kupu yang dilahirkan dari kesukaran dan waktu yang panjang".

Long Distance Relationship

Saya menjalani LDR sudah hampir 5 tahun. Jarak antara Semarang-Purwokerto, dan sekarang antara Jakarta-Purwokerto. Hal ini dikarenakan si dia yang berkuliah di Purwokerto dan saya di Semarang. Karena kuliah saya di Semarang sudah selesai, sekarang saya kembali melanjutkan kuliah saya di Jakarta. Semakin jauh saja jarak antara kami, tapi kami terima. Kami yakin bahwa pendidikan lebih penting dari hubungan kami, yaa .. hubungan kami nomor 2 setelah pendidikan.

Awalnya saya sulit menjalani LDR, dengan komunikasi yang minim, intensitas pertemuan juga sangat minim, kami sering mengalami pasang surut. Ketika pasangan lain sedang berbahagia dengan intensitas pertemuan yang dekat dan komunikasi yang lebih sering dari kami, kami sedang berusaha bertahan menjalani hubungan diantara pendidikan dan LDR. Sulit memang, tidak mudah menjalani LDR. Pasangan lain dapat sering pergi bareng, makan, nonton, foto, kami tidak. Kami bertemu 2-3 bulan sekali, tidak jarang juga 4 bulan kami baru bertemu.

Jika ada masalah, kami tidak dapat menyelesaikan secara langsung. Hanya mmpu mnyelesaikan lewat telepon, itupun hingga berlarut-larut. Tapi kami menikmati semua proses ini, saya yakin .. Jika saya menginginkan hasil yang baik, yang besar, saya harus mengalami kesulitan dahulu. Inilah proses yang harus saya jalani. LDR memang tidak mudah, tapi akan menjadi sangat mudah ketika kita yakin dan percaya kepada komitmen. LDR bukan hubungan yang main-main. Jika kita ingin main-main, untuk apa kita menjalani hubungan ditengah jarak yang membentang antara kami ? Jika tidak serius, jangan pernah bermain-main dengan LDR. Karena disini, pembuktian cinta diuji. Apakah jarak dapat mempertebal cintamu padanya, ataukan semakin membuat cintamu memudar ?

Komitmen, kesetiaan, kepercayaan, kasih sayang, semua menyatu dalam LDR. Tidak ada yang sia-sia ketika kamu berusaha semampumu untuk tetap bertahan dalam keadaan ini hingga takdir yang akan menjawab semua kesabaranmu. Cita-cita dan cinta, adalah suatu yang penting. Jangan pernah melepaskan salah satunya, genggamlah keduanya hingga kalian sukses dalam karir dan cinta.

Pentingkh pendidikan bagi anak ?

Saya sangat sedih ketika mengetahui bahwa ada kerabat terdekat yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas hanya dikarenakan orangtua merasa tidak mampu menyekolahkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka berpendapat bahwa sekolah sampai SMA/SMK saja sudah cukup untuk bekal sang anak ke dunia kerja. Disamping itu, hanya karena sang anak adalah seorang wanita maka orangtua berpendapat bahwa 'untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya akan jadi ibu rumah tangga juga'.

Saya sangat miris dan sedih dengan orangtua yang memiliki pemikiran seperti itu. Memang terkadang keuangan dapat menjadi salah satu masalah krusial dalam kehidupan rumah tangga mereka. Namun, dengan niat dan tekad yang kuat, seharusnya orangtua meyakini bahwa setiap anak yang dilahirkan ke dunia sudah memiliki rejekinya masing-masing. Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab orangtua untuk mengantarkan anaknya ke gerbang pintu kesuksesan.

Mungkin memang benar, ada banyak individu yang berpendidikan tinggi namun pada akhirnya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga ketika mereka telah berumah tangga. Pilihan menjadi wanita karir ataupun menjadi ibu rumah tangga memang mutlak berada dtangan setiap wanita. Namun, pendidikan jugalah sangat penting. Orangtua yang hanya bekerja sebagai buruh pabrik, menganggap bahwa sang anak juga kelak akan menjadi buruh pabrik sepertinya. Mereka tidak berani memiliki impian dan cita-cita bahwa mungkin suatu hari nanti, anaknya akan menjadi seorang direktur disebuah perusahaan ternama di Indonesia jika sang orangtua berani memutuskan untuk tetap menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi meskipun dengan keterbatasan biaya.

Kita tidak lupa dengan kehebohan bahwa anak seorang tukan becak dapat berkuliah di universitas terbaik di Semarang, dan bahkan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan keluar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa dengan segala keterbatasan biaya, seseorang akan tetap bisa melanjutkan kuliahnya dikarenakan tekad yang kuat dari orangtua untuk melihat anaknya berhasil.
Meskipun orangtua kita adalah orang yang kurang mampu, dengan pendidikan yang dapat diberikan oleh orangtua kepda anak, itu dapat meningkatkan kualitas hidup satu keluarga ketika anak tersebut dapat sukses.

Jangan pernah takut dengan keuangan, Tuhan akan selalu memberikan rizkynya kepada umatnya yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh dan mencari rizky itu dengan halal. Anak-anak yang cerdas, dilahirkan oleh seorang ibu yang cerdas. Maka dari itu, tidak ada satupun yang menjadi sia-sia ketika kita menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Satu ibu yang cerdas, akan melahirkan beberapa generasi penerus bangsa yang cerdas pula. Anak adalah aset negara, aset masa depan, aset kehidupan bagi suatu keluarga. Jagalah mereka, bimbinglah mereka, berikan motivasi kepada mereka agar tidak pernah lelah untuk menuntut ilmu. Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang dimiliki sekarang, karena ilmu tidak akan pernah habis, bahkan ketika kita sudah meninggal.

Senin, 01 September 2014

Tetapkan keyakinan dalam hatimu

Setiap manusia, pasti menginginkan dirinya untuk sukses. Tidak ada satupun manusia yang menginginkan dirinya untuk menjadi "produk gagal" dalam masyarakat. Tapi, banyak sekali di negara ini sarjana yang telah lulus masih kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal, usahanya untuk dapat berhasil menjadi sarjana itu tidak mudah. Ada kemarahan, air mata, kekesalan, kekecewaan, sakit hati, dan sebagainya. Namun mengapa ketika mereka lulus mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan ?

Apa karena IPK yang kurang memenuhi standar ? Atau karena ada ribuan sarjana lain yang memiliki kualifikasi lebih baik, sehingga perusahaan-perusahaan hanya mencari yang kualitas IPKnya tinggi ?
Banyak diantara kita yang berkali-kali mengikuti wawancara kerja, psikotes, lalu gagal. Terlebih jika IPK kita tidak cumlaude. Percayalah kawan, IPK itu bukanlah segala-galanya. Jika Tuhan menghendaki kita menjadi seorang yang sukses, anda akan menjadi seorang yang sukses. Tidak semua sarjana yang IPKnya tinggi, memiliki nasib yang baik. Tidak semua sarjana yang IPKnya rendah, memiliki nasib yang buruk.

Satu cara untuk merubah nasib adalah keyakinan. Ketika kita yakin terhadap apa yang kita inginkan, niscaya semuanya akan menjadi mudah. Namun jika anda merasa pesimis, hanya berusaha menjalani apa yang kalian jalani tanpa kepercayaan diri yang tinggi, kalian akan kalah. Ingat pepatah yang mengatakan bahwa "yang kuat yang bertahan, yang lemah akan tersingkirkan". Hidup itu tidak mudah, hidup penuh dengan perjuangan. Hanya satu kunci hidup yang dapat membawamu dalam kesuksesan, yaitu keyakinan. Simple memang, tapi ada banyak orang yang menyepelekan hal ini.

Ada satu dosen yang pernah berkata padaku, "keyakinan itu kuat, keyakinan itu memiliki kekuatan yang sama dengan seribu doa" oleh karena itu setiap hal yang akan kamu lakukan hari ini, harus selalu didahului dengan bismillah dan keyakinan. Jika kau gagal berkali-kali padahal kamu sudah yakin atas apa yang kamu lakukan akan berhasil, tenanglah .. karena orang yang sukses, tidak akan tercetak dengan instan. Mereka berkali-kali mengalami kegagalan, namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, mereka yakin bahwa suatu hari mereka akan berhasil. Satu saja pikiran negatif yang berhasil menyeruak masuk kedalam hati dan pikiranmu, dapat menggoyahan seribu keyakinan yang sudah kamu tanamkan selama ini.

Ketika orang lain meragukan kemampuanmu, terus memberimu hujatan yang dapat menggoyahkan keyakinanmu, jadikanlah itu sebagai acuanmu. Teruslah berusaha, yakinkan pada dirimu bahwa Tuhan menciptakanmu untuk menjadi orang hebat, sukses, dan hanya dirimu yang mampu menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.